
Judul buku : MERAPI GUGAT, Antologi Puisi Etnik 13 Penyair
Genre : Buku Puisi
Penulis : Anisa Afzal, Arieyoko, Boedi Ismanto SA, Gampang Prawoto, Hadi Lempe, Kurniawan Junaedhie, Nia Samsihono, Nunung Susanti, Ratu Ayu Neni Putra, Rini Intama, Soekamto, Susy Ayu dan Sutirman Eka Ardhana.
Kata Pengantar: Arieyoko (Komunitas Seniman Muda Bojonegoro)
Halaman : 157 hal + x -
Penerbit : Kosa Kata Kita
ISBN: 9-786028-966-108
HARGA : Rp 40.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
SIMAK KOMENTAR PEMBACA AWAL:
Cunong N. Suraja, pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor:
"Tigabelas penyair menggugat Merapi. Merapi yang memberkahi tigabelas penyair yang cukup jam terbangnya. Tak heran jika mereka menangkap makna Merapi dalam warna lokal yang kental serta kearifan budaya yang tandas dengan bonus catatan kaki bahasa daerah. Nama Sutirman Eka Ardhana, Kurniawan Junaedhie, Boedi Ismanto dan Susy Ayu untuk menyebut nama penyair dengan dapur magma yang mampu melawan kebringasan Merapi yang terasa lebih dahsyat dari tahun-tahun masa kecil saya. Sungguh buku kumpulan yang mewakili perhelatan Merapi di era Facebook yang ceria dan merdeka."
Maman S Mahayana, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul:
"Puisi adalah potret zaman. Ia tak sekadar representasi gebalau rasa yang paling individual tentang sikap, empati—simpati, atau bahkan antipati, tetapi juga sebagai pewarta peristiwa kemanusiaan. Selalu, tragedi kemanusiaan di belahan dunia mana pun akan menyedot rasa bela sungkawa. Lalu kepedulian pun berdatangan dalam berbagai bentuk ekspresinya. Antologi puisi ini—dengan segala sentuhan etnisitasnya—, telah menjadi saksi bicara, betapa suara penyair tiada pernah berhenti mengalirkan semangat hendak berbagi. Itulah tanggung jawab penyair sebagai makhluk manusia. Di situlah puisi menjadi suara kemanusiaan zamannya."
Hudan Hidayat, Sastrawan, dan Pengamat sastra, di Jakarta:
“.…seperti ke-13 rekan penyair ini, membuatkan semacam tugu peringatan akan kejadian alam – meletusnya gunung merapi. Seolah kini sastra itu menunjukkan dirinya, bahwa dia bukanlah semata bahasa yang dipakai untuk sekedar semata kesenangan diri. Tapi bahasa yang melibatkan juga kepada soal soal di masyarakat….”
Pemesanan dapat dilakukan di SINI
"Tigabelas penyair menggugat Merapi. Merapi yang memberkahi tigabelas penyair yang cukup jam terbangnya. Tak heran jika mereka menangkap makna Merapi dalam warna lokal yang kental serta kearifan budaya yang tandas dengan bonus catatan kaki bahasa daerah. Nama Sutirman Eka Ardhana, Kurniawan Junaedhie, Boedi Ismanto dan Susy Ayu untuk menyebut nama penyair dengan dapur magma yang mampu melawan kebringasan Merapi yang terasa lebih dahsyat dari tahun-tahun masa kecil saya. Sungguh buku kumpulan yang mewakili perhelatan Merapi di era Facebook yang ceria dan merdeka."
Maman S Mahayana, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul:
"Puisi adalah potret zaman. Ia tak sekadar representasi gebalau rasa yang paling individual tentang sikap, empati—simpati, atau bahkan antipati, tetapi juga sebagai pewarta peristiwa kemanusiaan. Selalu, tragedi kemanusiaan di belahan dunia mana pun akan menyedot rasa bela sungkawa. Lalu kepedulian pun berdatangan dalam berbagai bentuk ekspresinya. Antologi puisi ini—dengan segala sentuhan etnisitasnya—, telah menjadi saksi bicara, betapa suara penyair tiada pernah berhenti mengalirkan semangat hendak berbagi. Itulah tanggung jawab penyair sebagai makhluk manusia. Di situlah puisi menjadi suara kemanusiaan zamannya."
Hudan Hidayat, Sastrawan, dan Pengamat sastra, di Jakarta:
“.…seperti ke-13 rekan penyair ini, membuatkan semacam tugu peringatan akan kejadian alam – meletusnya gunung merapi. Seolah kini sastra itu menunjukkan dirinya, bahwa dia bukanlah semata bahasa yang dipakai untuk sekedar semata kesenangan diri. Tapi bahasa yang melibatkan juga kepada soal soal di masyarakat….”
Pemesanan dapat dilakukan di SINI







0 comments:
Post a Comment