
Judul buku : ILALANG DI TANAH AFRIKA
Genre : Novel
Penulis : Memed Gunawan
Halaman : 291 hal + VIII -
ISBN: 978-602-8966-061
Penerbit : Kosa Kata Kita
Harga Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pengetahuan manusia berkembang karena mereka saling belajar, memberi dan berbagi ilmu. Karena dalam pergaulan dunia pengetahuan, saling memberi itu menjadikan totalitas ilmu pengetahuan bertambah berlipat-lipat. Orang tidak akan kehilangan ilmu, tetapi bahkan melipatgandakan ilmunya dengan membagi pengetahuannya kepada orang lain. Berbeda dengan pertukaran benda fisik.
Memberi adalah melepaskan hak kepemilikan kepada yang lain, sehingga totalitasnya tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu ungkapan “Belajarlah Walaupun Harus Ke Negeri China” menjadi kata bijak yang melegenda sejak lama. Karena perkembangan pengetahuan memerlukan komunikasi. Karena perkembangan pengetahuan memerlukan pengalaman menjalani, supaya hidup tidak berpandangan sempit, short sighted, bagai katak dalam tempurung, dan hanya jadi jago kandang, akibat ketidaktahuan tentang dunia di sekelilingnya.
Manusia yang belajar akan melihat, mendengar, mencatat, membanding dan mempelajari secara mendalam apa yang dialaminya dalam perjalanan nuraninya, perjalanan perkelanaannya, ke manapun dia pergi. Temuan adalah kekayaan hasil pengamatan, dia semakin banyak dan semakin lengkap. Tapi manusia yang belajar, semakin menyadari bahwa pengetahuannya hanyalah setitik air di lautan. Betul kata pepatah: semakin banyak belajar, semakin banyak yang tidak diketahui. Tidak kuberi engkau pengetahuan kecuali sedikit saja, kata Tuhan. Inilah yang ingin disampaikan melalui catatan perjalanan ini.
Tokoh Gandring menyaksikan perbedaan-perbedaan tersebut, plus dan minus, baik dan buruk.
MEMED GUNAWAN, dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, tanggal 15 Februari 1948, Lulus dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Statistika Pertanian pada tahun 1974, kemudian mendapat beasiswa dari Universitas Indonesia untuk belajar di University of Minnesota, Amerika Serikat. Gelar MSc dan PhD di bidang Agricultural and Applied Economics diperolehnya pada tahun 1988.
Catatannya dalam bentuk puisi telah diterbitkan dalam dua buku puisi: “Ladang Berselimut Kabut” dan “Setangkai Padi Seisi Negeri” pada tahun 2004. Adapun novel yang pernah ditulisnya antara lain, “Kaktus Berbunga”, “Jalan Prahara” (2009), “Catatan Paimin: Manusia-Manusia Yang Terlupakan” (2010) dan “Debat Kusir Para Birokrat” (2010)
Pemesanan dapat dilakukan di SINI
Memberi adalah melepaskan hak kepemilikan kepada yang lain, sehingga totalitasnya tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu ungkapan “Belajarlah Walaupun Harus Ke Negeri China” menjadi kata bijak yang melegenda sejak lama. Karena perkembangan pengetahuan memerlukan komunikasi. Karena perkembangan pengetahuan memerlukan pengalaman menjalani, supaya hidup tidak berpandangan sempit, short sighted, bagai katak dalam tempurung, dan hanya jadi jago kandang, akibat ketidaktahuan tentang dunia di sekelilingnya.
Manusia yang belajar akan melihat, mendengar, mencatat, membanding dan mempelajari secara mendalam apa yang dialaminya dalam perjalanan nuraninya, perjalanan perkelanaannya, ke manapun dia pergi. Temuan adalah kekayaan hasil pengamatan, dia semakin banyak dan semakin lengkap. Tapi manusia yang belajar, semakin menyadari bahwa pengetahuannya hanyalah setitik air di lautan. Betul kata pepatah: semakin banyak belajar, semakin banyak yang tidak diketahui. Tidak kuberi engkau pengetahuan kecuali sedikit saja, kata Tuhan. Inilah yang ingin disampaikan melalui catatan perjalanan ini.
Tokoh Gandring menyaksikan perbedaan-perbedaan tersebut, plus dan minus, baik dan buruk.
MEMED GUNAWAN, dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, tanggal 15 Februari 1948, Lulus dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Statistika Pertanian pada tahun 1974, kemudian mendapat beasiswa dari Universitas Indonesia untuk belajar di University of Minnesota, Amerika Serikat. Gelar MSc dan PhD di bidang Agricultural and Applied Economics diperolehnya pada tahun 1988.
Catatannya dalam bentuk puisi telah diterbitkan dalam dua buku puisi: “Ladang Berselimut Kabut” dan “Setangkai Padi Seisi Negeri” pada tahun 2004. Adapun novel yang pernah ditulisnya antara lain, “Kaktus Berbunga”, “Jalan Prahara” (2009), “Catatan Paimin: Manusia-Manusia Yang Terlupakan” (2010) dan “Debat Kusir Para Birokrat” (2010)
Pemesanan dapat dilakukan di SINI







0 comments:
Post a Comment